lembaran baru hampir terbuka jiwa baru akan tiba, tetapi sekolah hijau ini masih tak bisa terlupa...
๐๐ฃ๐ผ๐ 1 ๐๐พ๐ด๐พ๐ฝ๐ฝ๐ฒ๐ท๐ฐ๐ฒ ๐น๐พ๐ท๐๐ช ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ฒ๐ฝ๐ช
Di MTsN 1 Bukittinggi, aku memulai sebuah perjalanan yang tak pernah aku sangka akan begitu berarti. Madrasah hijau itu berdiri dengan wibawa—temboknya teduh dipandang, suasananya terasa sejuk, tapi aturannya… jangan ditanya. Ketatnya bisa bikin siapa saja langsung “lurus” dalam sekejap. Dari cara berpakaian, waktu belajar, sampai urusan ibadah, semuanya dijaga dengan serius. Namun justru dari situlah, perlahan tumbuh cerita-cerita hangat yang kini terasa sangat berharga.
Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, kami sudah berkumpul untuk shalat dhuha di lapangan belakang yang beratap. Kadang panas menyelinap, kadang angin iseng menerbangkan mukena, tapi kami tetap berdiri dalam saf—antara khusyuk dan diam-diam saling lirikan menahan tawa. Suara tegas Pak Jep dan Pak Wen sering membuat kami buru-buru merapikan barisan. Dulu terasa menegangkan, sekarang justru jadi hal yang paling dirindukan.
Namun ada satu momen yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Suatu pagi, saat dhuha berlangsung, beberapa dari kami justru tidak serius—ada yang berbisik pelan, ada yang menahan tawa, bahkan ada yang melirik ke sana-sini. Hingga tiba-tiba suara Pak Jep memecah suasana. Tegas, lantang, dan penuh penekanan. Kami langsung tersentak, buru-buru menunduk, merapikan saf, dan mencoba kembali khusyuk. Jantung berdegup lebih cepat dari biasanya, bukan karena doa… tapi karena rasa takut sekaligus malu.
Tak hanya itu, saat shalat dzuhur pun pernah terjadi hal yang sama. Ada yang datang terlambat, berlari kecil dengan napas tersengal, mencoba diam-diam menyelinap ke barisan belakang. Tapi tetap saja, tak luput dari perhatian. Teguran kembali terdengar—kali ini lebih dalam maknanya. Bukan sekadar marah, tapi seperti pengingat bahwa ibadah bukan hal yang bisa dianggap sepele. Saat itu mungkin terasa menegangkan, bahkan membuat beberapa dari kami menunduk lama setelah selesai shalat. Tapi kini, justru itulah yang paling membekas—cara sederhana yang mengajarkan kami arti disiplin dan tanggung jawab.
Dan di antara barisan saf itu, ada satu cerita kecil yang hanya aku simpan sendiri. Sering kali, di sela-sela doa, aku diam-diam mengangkat pandangan, sekadar ingin tahu… dia ada di saf berapa hari ini. Kadang harus pura-pura merapikan mukena atau menunduk lebih lama, hanya untuk mencuri satu dua detik melihat ke arahnya. Saat akhirnya terlihat, rasanya aneh—tenang tapi juga deg-degan. Fokus buyar, hati jadi sibuk sendiri. Senyum kecil muncul tanpa diminta, lalu buru-buru ditahan. Salting? Iya, sering. Dan momen sesederhana itu, justru jadi bagian paling diam-diam berkesan dari setiap pagi di madrasah hijau.
Setelah itu, seperti biasa, kami menjalani ritual paling seru: berburu jajanan kantin. Belum bel masuk berbunyi, kaki sudah refleks melangkah cepat, bahkan setengah berlari, takut kehabisan gorengan favorit. Suasana kantin selalu hidup—ramai, riuh, penuh tawa. Ada yang titip beli, ada yang pura-pura antre hanya untuk mengobrol, dan ada yang akhirnya makan terburu-buru karena bel sudah keburu berbunyi.
Di dalam kelas, cerita lain kembali tercipta. Dari suasana belajar yang awalnya serius, tiba-tiba berubah karena satu celetukan sederhana. Tawa pecah, teguran datang, lalu hening sejenak sebelum akhirnya kembali ramai. Momen-momen kecil yang dulu terasa biasa saja, kini justru menjadi hal yang paling dirindukan.
Kini, langkahku membawa pergi dari madrasah hijau itu. Aku akan melanjutkan perjalanan ke tempat baru, dengan suasana yang berbeda. Tak akan ada lagi shalat dhuha setiap pagi di lapangan belakang. Tak ada lagi suara tegas yang dulu sering membuat kami panik, tapi ternyata penuh perhatian. Tak ada lagi momen berburu jajanan kantin dengan langkah tergesa. Bahkan mungkin… tak ada lagi kebiasaan mencuri pandang ke arah seseorang di antara saf, lalu salting sendiri tanpa alasan.
Aku baru menyadari, di balik aturan yang ketat, madrasah hijau ini telah memberikan lebih dari sekadar ilmu. Ia mengajarkan kebiasaan baik, kebersamaan, kesabaran, dan kebahagiaan sederhana. Kebahagiaan dari tawa, dari teguran, dari kebersamaan, dan dari perasaan-perasaan kecil yang diam-diam tumbuh tanpa disadari.
Selamat tinggal, madrasah hijauku. Tempat di mana aku belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang hidup. Tempat di mana setiap sudutnya menyimpan cerita, dan setiap harinya meninggalkan kenangan.
Madrasah hijau… kau mungkin sederhana, tapi kenanganmu begitu istimewa. Kau mungkin penuh aturan, tapi di dalamnya tumbuh kehangatan yang tak tergantikan. Dan meski aku melangkah pergi, percayalah—sebagian dari diriku akan selalu tinggal di sana. ๐ฟ




Comments
Post a Comment