๐ด๐ฎ๐ถ๐ช๐ท๐ช ๐ต๐ช๐ท๐ฐ๐ด๐ช๐ฑ ๐ด๐พ ๐น๐ฎ๐ป๐ฐ๐ฒ ๐ผ๐ฎ๐ต๐ช๐ต๐พ ๐ช๐ญ๐ช ๐ซ๐ช๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ถ๐พ~
menurut ku ini bukan lagi sebuah lagu tetapi mulai menjadi sebuah kisah yang terjadi di dalam hidup ku. tentang sahabat sahabat ku yang kini hanya tinggal hitungan hari menuju waktu perpisahan.
๐๐ฒ๐ผ๐ช๐ฑ
Di sudut halaman kenangan kami, MTsN 1 Kota Bukittinggi selalu terasa lebih dari sekadar sekolah. Udara pagi Bukittinggi yang sejuk, deretan bangunan yang sederhana namun penuh cerita, serta lapangan belakang yang menjadi saksi banyak momen—semuanya menyimpan jejak tawa kami berempat: aku, Syifa, Mecca, dan Aqila.
Kami bukan sekadar sahabat, tapi rumah bagi satu sama lain. Di bangku kelas, di sela pelajaran yang kadang terasa panjang, kami menciptakan dunia kecil kami sendiri—penuh canda, cerita, dan kebersamaan yang tak tergantikan. Dari hal sederhana seperti saling meminjam pulpen hingga berbagi cerita hati, semuanya terasa begitu dekat dan nyata.
Ada kebiasaan yang kini terasa begitu berharga. Pagi hari, sebelum kelas dimulai, kami selalu “berburu” jajanan kantin. Dengan langkah cepat dan penuh semangat, kami memilih jajanan favorit, saling merekomendasikan, bahkan kadang berebut hal kecil dengan tawa yang tak ada habisnya. Kantin sederhana itu menjadi tempat awal hari kami dimulai dengan bahagia.
Lalu, saat waktu shalat tiba, kami berjalan bersama ke lapangan belakang. Di bawah langit yang terbuka dan angin yang berhembus lembut, kami berdiri dalam barisan shalat dhuha dan dzuhur. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan—seakan dunia berhenti sejenak, dan yang tersisa hanyalah kami, doa-doa, dan kebersamaan yang diam-diam menguatkan.
Setelah itu, kami kembali bersama, makan, berbagi cerita, dan menghabiskan waktu dengan hal-hal sederhana yang kini terasa begitu istimewa. Semua momen itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tapi bagi kami, itulah bagian terindah dari perjalanan ini.
Syifa dengan ketenangannya selalu jadi tempat bersandar. Mecca dengan canda khasnya selalu menghadirkan tawa. Aqila—Qila—dengan kelembutannya yang menenangkan. Dan aku, yang beruntung menjadi bagian dari mereka, menyimpan semuanya dalam hati.
Namun waktu terus berjalan. Kini kami berada di ujung cerita kami di MTsN 1 Kota Bukittinggi. Hari-hari terasa lebih cepat, dan setiap momen terasa lebih dalam, karena kami tahu—perpisahan sudah di depan mata.
Qila akan melanjutkan langkahnya ke MAN IC Siak, membawa mimpi besarnya. Syifa akan pergi ke Padang, membuka lembaran baru di kota yang berbeda. Mecca berencana ke Medan, dengan semangat yang tak pernah padam. Dan aku… tetap di Bukittinggi, melanjutkan perjalanan sendiri, di tempat yang sama, namun dengan rasa yang berbeda.
Jarak akan memisahkan langkah kami, tapi tidak akan pernah memisahkan kenangan. Karena kami pernah berbagi pagi di kantin yang sama, berdiri bersama di lapangan belakang dalam doa, dan tertawa tanpa batas di tempat yang sama—MTsN 1 Kota Bukittinggi.
Dan suatu hari nanti, ketika kami bertemu kembali, aku yakin—kami tetaplah empat sahabat yang sama. Yang pernah mengukir cerita indah bersama, dan percaya bahwa perpisahan ini hanyalah jeda kecil dari persahabatan yang tak akan pernah usai.
jika suatu saat nanti kita bertemu, jangan pernah lupakan aku yaa cipaa mekaa qilaa



Comments
Post a Comment